Bila membicarakan industri kreatif, saat ini pertumbuhannya memang sangat pesat. Apalagi, pemerintah pun turut mengawal industri yang dinilah berpotensi besar dalam meningkatkan perekonomian negara ini. Dengan dukungan dari pemerintah, pelaku industri kreatif lebih bebas bekreasi dan berinovasi.

Salah satu industri kreatif yang sedang berkembang adalah game. Mungkin, dulu jumlah developer game lokal bisa dihitung jari, namun sekarang telah banyak game-game buatan anak negeri yang dikenal dan diapresiasi oleh internasional. Arief Widhiyasa adalah satu dari sekian banyak orang yang berkecimpung di dunia game. Berawal dari seorang mahasiswa biasa, sekarang ia menjadi CEO perusahaan game terkenal. Bagaimana kisah lengkapnya?

Suka Bikin Komik dan Kecanduan Game

Arief Widhiyasa sudah akrab dengan game sejak masih kecil. Game pertama yang dimainkan Arief adalah Nintendo pemberian orang tuanya. Dulu, ia bisa bermain game hingga lupa waktu. Hebatnya, Arief telah menyadari bahwa dirinya memang memiliki passion dalam development game sejak itu. Terbukti dari hobinya yang suka membuat komik dan game dari kertas. Karena passionnya, sekarang ia bisa menjadi seorang CEO Agate Studio, perusahaan developer game asal Indonesia yang berbasis di Bandung.

Memutuskan Untuk Drop Out dari Kampus dan Mendirikan Perusahannya Sendiri

Ide untuk mendirikan Agate muncul saat Arief masih berstatus sebagai mahasiswa di jurusan informatika, Institut Teknologi Bandung. Dengan modal dan pengalaman seadanya, Arief bersama sang teman membuat game dari laptop. Modal yang ada saat itu digunakan untuk menutupi biaya sewa tempat supaya tidak terus membuat game di kampus.

Di awal-awal pembentukan Agate, pemuda kelahiran Denpasar 30 tahun yang lalu ini tak pernah lelah mencari referensi mengenai bisnis game untuk menutupi kekurangan akan pengalamannya dalam mengelola usaha. Saat itu banyak masalah yang muncul, termasuk keputusannya untuk drop out dari ITB.

Agate Tumbuh Menjadi Perusahaan Besar

Setelah melalui berbagai rintangan, Agate pun akhirnya tumbuh menjadi sebuah perusahaan yang memiliki 65 karyawan, terbagi dalam empat divisi besar, yakni Agate Level Up (B2B), Legion atau Developer, Agate Games (B2C) dan Support Clerics. Kerja kerasnya juga membuahkan hasil, terbukti saat dirilisnya game Ponporon untuk pertama kali di ajang Indonesia Game Show 2008.

Di tahun ke-6, Agate telah menciptakan lebih dari 200 games dan saat ini dalam setahun, mereka mampu menghasilkan 20-30 games. Agate Studio juga berhasil menembus angka 4 juta pemain untuk total worldwide semua gamenya.

Supaya bisnisnya terus berkembang, Agate bekerja sama dengan berbagai pihak, seperti pembuat Upin & Ipin, Square Enix dan Google Localization Partner. Ke depannya, Arief berharap perusahaan yang ia dirikan dengan susah payah semakin kuat dan bisa menjadi leader di market. Karena ia belum mau berhenti untuk membuat dunia lebih ceria dengan game-game buatannya.