Besok akan ada aksi depan istana. Aksi para petani dari daerah. Para petani memprotes pendirian pabrik baja. Sudah berkali-kali mereka melancarkan aksi di kantor gubernur tapi tidak digubris. Mereka menggugat ke pengadilan, mereka memenangkan gugatan, tapi tetap saja kegiatan pembangunan pabrik tidak berhenti.

Agenda presiden besok adalah kunjungan kerja ke satu daerah. Staff presiden menyarankan untuk menugaskan Pak Wapres menemui para demonstran. Menurut kabar, para petani tidak akan meninggalkan depan istana jika tidak ditemui presiden.

Presiden memutuskan mengundurkan waktu kunjungan kerja ke daerah. Dia akan menemui terlebih dahulu para pendemo. Pemberitaan protes para petani sudah lama beredar. Sudah menjadi isu nasional. Kesempatan menaikan citra jika dia sendiri yang akan menemui para petani. Kenapa harus membagi citra pada Wapres?

Kabar soal citra itu sampai ke kantor Wapres.
“ Itu cuma citra berharga murah,” kata Wapres pada staff kepercayaannya.

Aksi demonstrasi para petani di depan istana berjalan tertib. Para petani didampingi sejumlah LSM. Sebagaimana setiap demonstrasi diwarnai oleh bermacam tulisan berisi tuntutan dan orasi

Tiga orang perwakilan petani memasuki istana. Dua pria dan satu wanita. Dua pria itu adalah LSM pendamping, sedangkan yang wanita adalah mewakili petani.Setelah melalui pemeriksaan yang ketat mereka diantar menemui presiden.

Presiden menjabat tangan dua pria dari LSM terlebih dahulu. Saat menjabat tangan petani wanita, Presiden seperti tersengat. Matanya lekat pada wajah yang dulu pernah sangat dikenalnya. Putri Pak Sobri!

Presiden terganggu konsentrasinya. Dia mendengarkan tuntutan para petani melalui utusan LSM pendamping, tapi hatinya gugup. Dia berusaha mengendalikan kegugupannya, tapi saat matanya lekat pada wajah putri Pak Sobri, kegugupan itukembali membelenggunya.

“ Ya, saya sudah mendengar tuntutannya, “ kata Presiden setelah LSM sebagai perwakilan petani itu selesai membacakan tuntutannya. “ Saya akan pelajari lebih lanjut. Sebenarnya ini tugas Pak Gubernur. Nanti saya akan bicara dengan Pak Gubernur. “

“ Maaf, Pak.” Putri Pak Sobri yang sejak tadi diam mulai bicara. “ Kalau Bapak bicarakan lagi dengan gubernur …”

Presiden memotong, “ Iya, saya paham. Tapi kan kali ini yang bicara Presiden. Lagi pula yang tahu secara teknis kan Gubernur. E, begini saja. Bapak berdua silakan kembali ke para petani di luar. Biar Ibu ini bicara empat mata dengan saya. Saya ingin tahu apa yang sebenarnya dirasakan petani dengan bahasa petani, bukan bahasa LSM. Nanti hasilnya akan diberitahukan oleh ibu ini. “

Kedua orang LSM itu meninggalkan ruang pertemuan.
Presiden dan putri pak Sobri diam beberapa saat.

“Bagaimana kabarnya? “ Presiden membuka percakapan

“Pada umumnya baik. Tapi setelah mendengar kambing pemberian Bapakku hilang, seperti ada yang hilang dari diri saya. Entah apa.”

Inilah pertama kali setelah puluhan tahun, keduanya bicara seserius ini. Dulu cuma basa-basi saja. Lebih banyak bicara dengan tatapan mata. Mengandalkan hati yang bicara. Komunikasi verbal yang gagal telah memisahkan mereka

Keduanya kembali diam. Kembali pada cerita lama. Hanya hati yang bicara.

“Kalau saja dulu saya bisa mendengar suara hati …” Presiden terbawa suasana pertemuan yang di luar dugaannya itu

“ Apa sekarang sudah bisa mendengar suara hati saya?”

“Belum juga.”

“Kalau mendengar suara hati saya saja gagal, bagaimana dengan suara hati rakyat? “

“Hei, itu politis. Ini soal melankolis.“

“Saya datang ke sini mewakili suara hati para petani. Ada banyak hati dalam hati saya.”

“Barangkali karena itu saya jadi tidak lagi bisa mengenali hatimu. “

“Sebagian hati saya sudah saya titipkan pada kambing yang hilang itu. Jika kambing itu ditemukan, berarti Bapak menemukan kembali hati saya. Sekarang apa jawaban Bapak atas tuntutan hati para petani? “

“Dalam waktu dekat saya akan pangggil Gubernur. Untuk sementara saya akan minta dihentikan dulu pembangunan pabrik itu. “

Berita diterimanya tiga utusan petani di istana menjadi perhatian media. Ada sepasang mata yang memperhatikan secara ekstra melalui media. Sepasang mata milik Ibu Presiden.

BERSAMBUNG

 

sumber : Balya Nur