Exterior Gubuk Kakek Gondrong. Malam. Teras Gubuk Kakek Gondrong, lebih tepatnya depan gubuk Kakek Gondrong. Kakek Gondrong duduk di balai lusuh. Kambing Jantan tiduran di bawahnya, di lantai tanah yang lembab di bawah penerangan lampu lima belas wat.

Kakek Gondrong sedang bicara seperti dengan dirinya sendiri. Tapi sebenarnya dia mengajak bicara Kambing Jantan. Soal kambing Jantan tidak menjawab ucapan Kakek Gondrong, itu soal lain. Sewajarnya memang begitu. Soal Kambing Jantan paham apa yang dibicaraka Kakek Gondrong itu soal dunia lain lagi. Antara dunia mahluk binatang, mahluk setingkat di bawah manusia sebagai mahluk yang paling sempurna.

Tuhan sudah menciptakan manusia sebagai mahluk paling sempurna yang mempunyai mata, telinga, mulut, dan akal. Di bawahnya, mahluk binatang yang juga diberikan mata, telinga, mulut, dan insting. Di bawah binatang, mahluk tumbuh-tumbuhan yang tidak punya mata, telinga, mulut. Tapi dia bisa hidup dengan caranya sendiri, memanfaatkan potensi alam, baik melalui bantuan binatang, atau manusia, maupun tidak. Di bawahnya ada mahluk benda mati semisal batu yang tidak peduli soal hidup dan mati. Makanya dia tidak butuh minum dan makan. Mati atau hidup, atau lebih tepatnya ada dan tiada sama saja bagi mahluk benda mati.

“Pagi tadi aku ke kota. Aku dapat kabar yang rada aneh. Banyak yang bicara soal kambing istana hilang. Apa anehnya kambing hilang? Hampir setiap hari kambing datang dan pergi, lahir dan mati. Cara mati kambing juga hal yang biasa saja. Mati karena tua, atau mati karena lehernya digorok, apa bedanya? Manusia bisa bicara soal surga atau neraka sambil makan gulai kambing, atau sate kambing, tanpa sedikit pun merasa bersalah.”

“Ketika Tuhan menggantikan Ismail dengan kambing, banyak manusia yang bersyukur. Mereka memuji keikhlasan seorang anak bernama Ismail dan keteguhan hati seorang bapak bernama Ibrahim dalam menjalankan perintah Tuhan. Apakah kalian, bangsa kambing juga merasa terhormat karena menggantikan Ismail? Entahlah. Tapi yang pasti, setiap tahun kalian ikhlas dijadikan korban contoh nilai sebuah keikhlasan. “

“Barangkali itulah cara Tuhan memelihara bangsa kambing dari kepunahan. Setiap tahun kalian dijadikan kurban di seluruh dunia, tapi populasi kalian sedikit pun tidak berkurang. Padahal binatang lain dilindungi oleh pemerintah dari pembunuhan para pemburu agar tidak punah. Tapi populasinya tidak sebanyak kambing. Lalu ada apa dengan pemerintah ini? Mau melindungi kambing dari kepunahan hingga meributkan kambing hilang? Mestinya kalian patut mengasihani pemerintah yang membuat rakyatnya ikut repot gara-gara kehilangan kambing peliharaan.”

Kambing Jantan mulai bosan mendengar ceramah Kakek Gondrong. Dia bangkit, masuk ke dalam bergabung dengan Kambing Jantan yang tiduran di sudut pondok bersama kedua anaknya. Kakek Gondrong sengaja sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar oleh keluarga kambing istana. Dia harus menuntaskan ceramahnya agar tidak disalah pahami.

“Aku tidak tahu kalian datang dari mana. Aku tidak peduli. Kalian bukan kambing hutan, pasti kalian milik seseorang. Kalau saja misalnya orang itu menemukan kalian, kalian pasti akan meninggalkanku. Barangkali suatu saat akan ada kambing lain yang datang ke mari. Hal yang wajar saja. Aku juga tidak peduli kalau misalnya kalian adalah kambing istana yang hilang itu.”

Kambing Betina mendadak bangkit. Kambing jantan berusaha menenangkan, “ Ssst …Kakek Gondrong bukan sedang mencurigai kita. Dia sedang bicara soal nilai. Entah nilai apa, barangkali nilai mahluk ciptaan Tuhan atau semacamnya. Aku tidak begitu paham.”

“Tapi jelas sekali dia bicara soal kambing istana.” Kambing Betina masih cemas.

“Itu cuma contoh soal. Coba dengarkan lagi ucapannya.”

“ Aku senang kalian ada di sini menemaniku. Aku seperti menemukan keluarga baru.” Terdengar kembali suara Kakek Gondrong. Kambing Betina mengeluarkan segenap kemampuannya buat memahami ucapan Kakek Gondrong.

“Sebelumnya aku punya keluarga mahluk tumbuh-tumbuhan. Mereka setiap hari aku ajak bicara. Mereka memberikan kebutuhan kehidupanku sehari-hari. Aku menanam pohon baru, mengajaknya bicara, setelah mereka dewasa aku cabut kehidupan mereka, aku masukan ke dalam perut. Mereka menyatu dengan darahku. Lalu aku tanam lagi pohon yang baru, begitu seterusnya.”

“Apa yang Kakek itu bicarakan, aku tidak paham,” bisik Kambing Betina kepada Kambing Jantan.

“Tidak semua pembicaraan harus kita pahami. Bagian yang tidak kita pahami kita terima saja apa adanya. Jangan ditafsirkan yang akan membuat kita susah sendiri. Sekarang tidurlah.” Kambing Jantan berhasil membuat Kambing Betina kembali tenang.

“Tentu saja aku tidak akan memakan kalian walaupun kesempatan itu mudah bagiku. Hahahaha. Kalian bisa membantuku jika kalian mau, atau kalian merasa bosan dengan rutinitas di sini. Kalian bisa menjaga kebun dari gangguan kambing-kambing lain yang terkadang datang merusak kebunku. Kalian tamuku, kalian bisa bebas makan hasil kebunku. Tapi kambing-kambing nakal itu datang bukan niat makan, tapi sepertinya ingin merusak kebunku.”

Ucapan selanjutnya kakek Gondrong sudah tidak menarik lagi. Kambing Jantan menggosok-gosokan kepalanya ke perut Kambing Betina, lalu menelusuri sampai bokong. Mengendusnya.

“Kau belum juga siap buat kawin, padahal kalau tidak salah hitung ini sudah masuk musim kawin,” kata Kambing Jantan dengan nada kecewa. “Barangkali kau terlalu banyak pikiran. Kau mesti bisa lebih tenang walaupun status kita sebagai buronan.”

“Akan aku usahakan,” kata Kambing Betina. Dia cuma ingin menghibur Kambing Jantan. Dia belum tahu bagaimana cara mengusahakannya, dan apakah dia bisa mengusahakan. Tapi juga ada terselip rasa kekhawatiran. Jika nanti Kambing Jantan menjadi penjaga kebun kakek Gondrong dari gangguan kambing-kambing nakal, jika benar ini sudah musim kawin, apakah Kambing Jantan tidak akan tergoda dengan salah satu kambing betina yang nakal itu?

BERSAMBUNG

 

sumber : Balya Nur