Putri Pak Sobri bukan mau memanfaatkan kedekatannya dengan presiden. Soal para petani yang berdemo ke istana menjadikannya juru runding mungkin saja berdasarkan kedekatannya dengan presiden. Bagi Putri Pak Sobri, keresahan para petani atas pembangunan pabrik baja juga merupakan keresahannya.

Kedekatannya dengan presiden merupakan bagian masa lalunya. Dulu tidak pernah sedikit pun terpikir pemuda yang sampai sekarang masih tersimpan dalam hatinya kelak akan menjadi presiden. Dia tidak melihat bakat politisi atau semacamnya pada diri pemuda itu. Sepanjang pembicaraan dengan Pak Sobri, pemuda itu cuma sebagai pendengar pasif saja. Tidak ada tanda-tanda pemuda itu nantinya akan menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Pemuda itu sudah terperangkap di masa lalunya. Tidak bisa keluar lagi. Sudah berkali-kali dia usahakan mengeluarkan pemuda itu dari penjara hatinya, tapi selalu gagal. Dia telah merelakan pemuda itu menjadi milik wanita lain yang sekarang punya sebutan baru, Ibu Presiden. Tapi siapa pun tidak bisa merebut cintanya yang masih disimpannya dalam hati.

Hati bisa jauh, bisa dekat. Tapi apa ukurannya? Harus jelas. Hati bisa saja seluas samudera, tapi samudera tetap ada batasnya. Persoalan kehidupan lebih luas dari samudera. Terkadang cinta yang masih tetap dipelihara terhimpit oleh berbagai persoalan yang datang setiap hari. Hingga membuat cinta sesak nafas.

Hadiah dua ekor kambing dari Pak Sobri yang diberikan pada Presiden disertai titipan pesan khusus dari Putri Pak Sobri, agar cinta itu mudah dikenali. Ada bentuknya, walaupun dalam bentuk dua ekor kambing. Sekarang kambing itu sudah hilang entah ke mana. Membawa kabur cinta senyap antara dua hati, Presiden dan Putri Pak Sobri.

Ibu Presiden merasa sekarang saat yang tepat menanyakan kedatangan Putri Pak Sobri di istana yang mengatas namakan para petani. Seperti biasa, pembicaraan dilakukan di kamar tidur.

“Apa yang dibicarakan Putri Pak Sobri? “ Ibu Presiden membuka pembicaraan

“Soal protes para petani atas pembangunan pabrik baja. “

Presiden menjawab seperlunya. Dia harus berhati-hati menjawab pertanyaan Ibu Presiden.

“ Cuma itu? “

“Cuma itu.”

“Yakin tidak ada yang lain?”

“Yakin.”

“Kenapa dua orang dari LSM itu meninggalkan ruangan pertemuan lebih dahulu, meninggalkan Putri Pak Sobri hanya berdua dengan Mas? “

“Agar aku mendapat informasi langsung dari petani tanpa polesan LSM.”

“Dia menanyakan kambingnya?”

“Tidak.”

“Yakin?”

“Yakin.”

“Kenapa dia tidak menanyakan kambingnya?”

Hampir saja Presiden ingin mengatakan, “Barangkali karena persoalan pabrik baja lebih penting dari pada soal kambing.” Bisa saja akan disusul pertanyaan berikutnya, “Kenapa Mas tahu jalan pikiran Putri Pak Sobri? “ Presiden merubah jawabannya, “ Aku tidak tahu.”

“Mas bercerita soal kambing yang hilang?”

“Tidak.”

“Kenapa tidak?”

“Tidak terpikir.”

“Apa yang Mas pikir?”

“Soal pendirian pabrik baja.”

“Biasanya Mas mendelegasikan pak Wapres buat bertemu dengan para demonstran, kenapa sekarang tidak?”

“Itu sudah meyangkut soal pekerjaan. Sebaiknya kita bicarakan di istana saja.”

Presiden mematikan lampu meja. Keduanya berpelukan, namun tidak semesra seperti biasanya.

BERSAMBUNG

 

sumber : Balya Nur