Gubernur telah bertemu Presiden. Keduanya sepakat menghentikan sementara pembangunan pabrik baja. Semua sudah dirundingkan dan dipertimbangkan dengan matang. Tidak ada yang dirugikan, bahkan semua diuntungkan. Bagaimana dengan investor?

Investor adalah mahluk yang bermazhab uang. Menanam uang, tumbuh uang. Menanam uang membutuhkan kesabaran dan ketaletanan dari mulai menanam sampai memberi pupuk dan memetik hasilnya.

Investor bukan hanya mempelajari cara menanam uang, tapi juga dia tahu karakter tanah yang menjadi media tanam. Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun matanya tidak boleh lepas dari perkembangan politik dalam negeri.

Investor paham betul. Jika dia bisa membuat kesepakatan dengan penguasa, maka dia juga harus mempelajari pihak oposisi. Oposisi dimana saja sama. Jika penguasa punya rencana A, maka oposisi harus B. Jika penguasa punya kebijakan B maka oposisi harus A.

Cagub oposisi pasti akan menentang habis pendirian pabrik baja. Jika dia berkuasa, maka kata kunci “sementara” dalam hal penghentian pembangunan pabrik baja akan diganti dengan “permanen.” Sekurangnya selama lima tahun atau bahkan bisa lebih.

Untuk mempertahankan kata sakti “penghentian sementara” maka investor harus rela menghentikan pembangunan pabrik baja sampai petahana kembali terpilih menjadi gubernur. Investor tahu caranya. Keluarkan uang untuk membantu kampanye Gubernur petahana. Buang sedikit uang untuk mendapatkan uang yang lebih banyak.

Kata sakti “penghentian sementara” juga ampuh untuk pencitraan Gubernur bisa dipersepsikan sebagai Gubernur yang mendengarkan suara hati rakyat, sekaligus membunuh harapan Cagub oposisi yang akan menggunakan isu besar itu untuk jualan pencitraan bernilai dua puluh empat karat.

Presiden yang setahun lagi akan mencalonkan kembali menjadi presiden juga diuntungkan. Presiden yang dicitrakan berpihak kepada para petani, rakyat kecil yang menjadi mayoritas penghuni negeri ini. Setiap kepala warga negara adalah aset berharga bagi calon Gubernur atau calon Presiden. Dalam kehidupan sehari-hari, kepala rakyat kecil harganya bisa jadi lebih murah dari sebuah kelapa. Kepala itu bisa dijitak kapan saja atau kalau perlu dipentung sekaligus dilarang berteriak. Tapi dalam pilgub atau pilpres, setiap kepala rakyat kecil punya nilai tiga kali lipat dibanding satu kepala orang kaya.

Setelah selesai pilgub dan pilpres jika keduanya terpilih kembali, pendirian pabrik baja bisa dilanjutkan lagi. Kata kuncinya tentu saja “penghentian sementara.” Soal bagaimana caranya, penguasa punya keahlian khusus mengutak-atik undang-undang dan peraturan. Jika Cagub opoisisi yang menang, investor tentu sudah menyiapkan rencana lain yang tentu saja caranya lebih rumit bahkan sangat rumit. Tapi uang bisa bikin sedikit lebih mudah. Tapi tetap saja rumit.

Kata sakti “penghentian sementara” juga berdampak baik bagi Putri Pak Sobri. Namanya mulai dikenal luas bukan hanya di tingkat provinsi, tapi sudah menasional. Media yang gemar memberi julukan dadakan memberinya gelar “Srikandi Para Petani.”

Gelar itu juga berdampak baik bagi Cagub petahana jika berhasil menggaet Putri Pak Sobri menjadi barisan timsesnya, atau sekurangnya relawan, atau paling mentok menjadi pajangan selama kampanye. Bukan cuma soal gelar, nilai plus lainnya, Putri Pak Sobri kenal dekat dengan Presiden.

Putri Pak Sobri memenuhi panggilan Pak Gubernur. Dia duduk di meja tamu ruangan Pak Gubernur yang sejuk. Pak Gubernur memuji Putri Pak Sobri seakan dia mengundang hanya untuk memuji.

“Saya bangga punya warga yang peduli pada rakyat kecil dan berani menyampaikan aspirasi arus bawah. Walaupun negara sudah punya lembaga resmi untuk saluran penyampaian aspirasi, tapi saluran itu terkadang mampet. Dibutuhkan seorang pemberani yang bisa mencari jalan lain agar saluran aspirasi itu sampai pada pengambil kebijakan. Pemerintah butuh kritik dari masyarakat. Kritik itu ibarat alarm jam meja. Jika alarm tidak berbunyi maka kemungkinan besar pemilik jam akan bangun kesiangan. Jelas merugikan bagi produktivitas.”

Gubernur bicara seakan-akan dia bukan pengambil kebijakan yang telah mengizinkan pendirian pabrik baja, dan menutup mata terhadap protes para petani sebelum para petani datang ke istana.

Putri Pak Sobri walaupun telah mendapat gelar “Srikandi Para Petani,” tapi dia tetap merasa dirinya tidak berubah. Masih wanita lugu seperti dulu. Dia menganggap pujian Pak Gubernur hanya basa-basi biasa saja. Dia tidak tahu kalau pujian itu adalah “perangkap” agar dia pada akhirnya bersedia berdiri di barisan timses Cagub petahana.

BERSAMBUNG

 

sumber : Balya Nur