Tidak ada yang tidak mungkin di era modern ini. Salah satu terobosan berupa “e-blusukan” dilakukan oleh seorang raja asal Afrika bernama Togbe Ngoryfia Cephas Kosi Bansah. Dia adalah orang nomor satu di Hohoe, daerah Selatan Ghana.

Independent, situs asal Inggris melansir bahwa sejak tahun 1970 Raja Togbe telah memutuskan menetap di Jerman setelah melaksanakan program pertukaran pelajaran. Raja yang saat ini berusia 66 tahun tersebut menemukan jodohnya di negara ini lalu menikahinya pada tahun 2000. Inilah alasan kenapa Togbe tidak kembali ke kampung halamannya. Lalu bagaimana dengan rakyatnya?

Raja Togbe diangkat menjadi raja pada tahun 1987 menggantikan kakeknya yang telah meninggal dunia. Dia menjadi pemimpin dan mengawasi rakyatnya sejumlah 200.000 orang di Hohoe dengan menggunakan fasilitas Skype. Skype adalah sebuah program komunikasi yang memakai teknologi P2P atau peer to peer. Ini adalah program milik microsoft yang bisa diunduh secara gratis dengan tujuan menyediakan fasilitas komunikasi suara yang bermutu tinggi, murah dengan basis internet dan bisa dipakai oleh semua orang di seluruh dunia.

 Di kota kecil di Jerman, Ludwigshafen, Togbe melakukan “E-blusukan” dengan cara memonitor rakyatnya melalui komunikasi jarak jauh via skype. Togbe mengaku sering begadang hingga larut malam untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antarsuku.

[youtube id=”https://www.youtube.com/watch?v=VpvhC6T10FE” width=”600″ height=”350″ autoplay=”no” api_params=”” class=””]