Ternyata pemakaian media sosial seperti Twitter tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan-pesan sekuler, tetapi juga hal-hal yang berbau religius dan itu pula yang dilakukan oleh seorang Biarawati yang tinggal dan bekerja di Nikaragua, Xiskya Valladares. Biarawati ini memiliki akun Twitter dengan jumlah follower yang bisa dikatakan cukup banyak, yaitu sekitar 32 ribu followers.

Xiskya baru saja merilis sebuah buku yang mengajak umat beriman tentang bagaimana mereka dapat menggunakan media sosial untuk menjangkau orang-orang. Media sosial ini, katanya, dapat dipakai untuk menjangkau mereka yang sedang kesusahan misalnya mencari tahu apa yang orang lain butuhkan dan apa yang mereka khawatirkan, kemudian memakai semua itu untuk bersama-sama berempati kepada mereka yang sedang menanggung masalah.

evangelizar twitter

evangelizar twitter

Intinya, Xiskya lewat bukunya dan juga media sosial berusaha mengajak agar orang-orang terlibat di dalam membangun sebuah komunitas digital. Suatu komunitas yang memberikan berbagai macam informasi yang berguna, mendorong inisiatif masyarakat, dan semacamnya dengan jalan menyebarkan video serta foto lewat Hashtag Twitter. Lewat itu semua, umat beriman dapat mendengarkan pandangan orang lain.

Hal ini membuat kita sadar bahwa Twitter merupakan media sosial yang dapat dimanfaatkan untuk banyak hal. Xiskya juga mengajak umat beriman dalam komunitas digital untuk tidak menanggapi hal-hal seperti hinaan ataupun ancaman. Berbeda dengan apabila mereka menerima kritik yang dapat membangun, jika seperti itu tidak apa-apa untuk memberikan tanggapan yang berarti.

xiskya valladares

xiskya valladares

Banyaknya media sosial seperti Twitter maupun Facebook serta medsos-medsos lainnya memang dapat digunakan untuk berbagai macam hal. Kadang bersifat positif, namun ada juga yang bersifat negatif. Karenanya, pemakaian media sosial yang ada juga harus cerdas sebab seiring perkembangan teknologi yang ada, pemanfaatan media seperti ini semakin banyak digunakan untuk beriklan maupun mempengaruhi serta mengajak orang-orang.

Sebagai pengguna aktif media sosial semacam itu, akan lebih baik kita bisa memilah-milah informasi mana yang membangun dan berguna khususnya bagi orang lain dan mana informasi yang tidak sebaiknya untuk disebarkan.

sumber : The Guardian